Wednesday, January 12, 2022

Si Tukang Ngeluh

Namanya Ryan. Mahasiswa tingkat akhir yang sedang bergelut dengan hiruk pikuk tugas akhir. Ryan ini sudah memasuki semester 11 yang artinya sudah hampir 6 tahun berkuliah.

Awal-awal kuliahnya dia seorang anak yang rajin, tidak pernah telat masuk kelas, tidak pernah absen, tugasnya pun selalu dikerjakan. Semua berubah setelah memasuki masa-masa praktikum di laboratorium. 

Ada beberapa mata kuliah yang saat itu harus dilalui dengan menyelasikan laporan-laporan praktikum. Setiap masuk lab, harus asistensi ke senior-senior asisten dosen. Kadang terlambat mengunpulkan laporan, belum lagi jika senior-senior asisten dosennya lagi rese', Dan masih banyak drama-drama lainnya.

Ryan pun mulai mengeluh dengan aktifitas kampusnya. Akibatnya banyak tugas-tugas Dan laporan ya terbengkalai. Dia pun harus mengulang mata kuliahnya itu di tahun berikutnya.

Sejak saat itu, Ryan pun menjadi tukang ngeluh, apa-apa jika sudah merasa report dan kesusahan pasti mengeluh. Sedikit-sedikit megeluh lagi. Sampai teman-temannya capek untuk menasehatinya.

Pada akhirnya, dia mendengar sebuah khutbah Jum'at yang mampu merubahnya. Kebetulan khutbah tersebut membahas tentang sifat manusia yang sering mengeluh. Selepas Jum'at Ryan pun menyapa khatib yang berkhutbah tadi. Konsultasi lah Ryan dengan Sang Ustadz. Akhirnya Ryan pun diberi nasihat-nasihat untuk bisa berubah.

Dia mendapat sebuah suntikan moral Dari Ustadz. 
  "Ketahuilah nak, Allah tidak akan memberikanmu      ujian diluar kemampuan kamu." 
  "Jika kamu mendapat kesulitan ujianmu, berarti          Allah ingin menaikkan kualitasmu, dan jika kamu      masih terus mengeluh berarti kamu sendiri yang        tidak mau memperbaiki kualitasmu."

Ada banyak nasehat yang diberikan ke Ryan tapi, itu yang paling k diingat olehnya. Akhirnya Ryan mengamalkan nasehat tersebut sampai dia mampu menyelasikan tugas akhirnya.

0 komentar:

Post a Comment