Friday, December 31, 2021

Pohon Berbuah Indomie

 Halaman rumah saya kebetulan agak luas. Banyak yang bisa ditanam. Kedua orang tua juga suka tanam-menanam. Mulai dari bunga-bunga sampai buah yang pohonnya besar. Kebetulan di rumah itu ada tiga jenis buah yang ditanam yaitu pisang, mangga, dan jambu.

Dari ketiga pohon buah ini, ada satu yang paling produkti yaitu pohon jambu. Jambu yang kami punya itu jenisnya jambu klutuk putih atau biasa orang bilang jambu kristal. Biasanya orang-orang mencari buah ini untuk dikonsumsi jika sakit diare atau demam berdarah.

image : samudrabibit.com

Awalnya buah-buah dari pohon jambu ini itu selalu menjadi santapan kelelawar. Ya, walaupun berbuah banyak dan sudah matang tapi sering sekali buahnya dimakan oleh kelewar. Padahal ya buahnya sengaja disimpan sampai matang di pohon untuk dimakan eh kawannya Batman yang embat.

Teman kantor bapak pun menyarankan untuk buahnya dibungkus terlebih dahulu supaya tidak lagi terjadi hal seperti itu. Jadi saat buahnya masih kecil, buahnya langsung dibungkus. Sarannya pakai bungkusan plastik yang tidak bening supaya tidak langsung kena sinar matahari biar buahnya tidak rusak. Hmm

Jatuhlah pilihan bungkusan itu ke plastik mie instan. Jadi ukuran plasti mie instan itu sudah pas kata bapak. Jadi saat buahnya sudah membesar dan plastiknya sudah sempit, maka buahnya itu sudah matang dan siap untuk dipetik.

Benar saja, setelah mempraktekkan cara tersebut buah jambunya sudah tidak dimakan oleh si Batman lagi. Matangnya pun lebih enak dan yang pasti bisa dinikmati semua tanpa khawatir di makan kelelawar. Mulai saat itu setiap pohonya berbunga kembali, cepat-cepat deh dibungkus dan hampir semua bungkusannya adalah plastik mie instan.

Tampilan pohonnya pun lebih unik. Karena buahnya banyak dan satu buah itu satu plastik, bisa kebayang bagaimana banyaknya plastik mie instan yang ada di pohon itu. Sampai-sampai rumah kami pun mendapat julukan "itu rumah yang pohon jambunya berbuah indomie" hahaha

Tapi jangan salah, tak hanya plastik mie instant yang dipakai. Ada juga plastik detergen, kopi, atau sereal. Jadi pada saat mau panen nunjuknya enak, tinggal lihat apa bungkusannya. 

Sayangnya pohon jambunya sudah tua, sudah tidak produktif lagi. Jadi sudah jarang berbuah. Kalaupun berbuah, buahnya sudah tidak semanis dulu seperti manisnya janji-janjimu di awal pertemuan kita. Apasih...


#30DWC 
#squad2DWC
#day10DWC

Continue reading Pohon Berbuah Indomie

Thursday, December 30, 2021

Timnas Tak Berdaya

Rabu, 29 Desember 2021. Berlangsung final leg pertama Suzuki AFF 2020 yang mempertemukan Tim Nasional Indonesia dan Thailand. Ini merupakan kali keenam Indonesia berlaga di partai Final. Sudah lima kali berakhir dengan Runner-Up. Pada final kali ini, warga Indonesia berharap timnas bisa meraih kemenangan dan membawa pulang piala AFF ke tanah air untuk pertama kalinya.

Sudah beberapa edisi piala AFF, Indonesia selalu gonta-ganti juru taktik. Saat ini Indonesia dipimpin oleh pelatih asal Korea Selatan, Shin Tae-Yong. Sang pelatih pernah menukangi tim nasional Korea Selatan di perhelatan Piala Dunia 2018 di Rusia. Prestasinya bisa dibilang sangat bagus dan banyak yang optimis Indoensia akan bertambah kuat melalui racikan sang pelatih.

Benar saja, Shin Tae-Yong berhasil membawa anak asuhannya melangkah ke babak final AFF tahun ini. Pemain muda banyak mendominasi dalam timnya. Terhitung hanya beberapa pemain saja yang pernah ikut dalam edisi AFF sebelumnya dan sisanya pemain baru.

Melihat laga Final tadi malam, Indonesia kalah segalanya dari Thailand. Penguasaan bola, pressing, kontrol bola, mental, dan lainnya tim nasional kita tidak berdaya. Apalagi setelah pemain Thailand mencetak gol cepat di menit kedua, mental para pemain garuda seperti ambruk.

Memasuki babak kedua, beberapa pemain kunci pun diturunkan. Tapi Thailand yang sejak babak pertama mendominasi pertandingan malah menambah keunggulan sehingga skor akhir menjadi 4-0 untuk kemenangan Thailand.

Timnas harus membalas setidaknya lima gol tanpa balas untuk bisa menjad juara di leg kedua nanti. Walaupun dibilang sangat sulit jika melihat kualitas pemain dan permainan Indonesia dan Thailand, kita berharap keajaiban akan terjadi. Tetap bangga dengan Tim Nasional Indonesia    

image : PSSI



#30DWC
#Day9DWC
#fighterDWC
#squad2
Continue reading Timnas Tak Berdaya

Wednesday, December 29, 2021

Manggung

Sebagai seorang anak yang pendiam, saya paling takut jika tampil di depan umum. Entah itu berbicara, pentas, atau yang lainnya. Tapi jika dikerjakan bersama-sama berbeda, saya sangat berani (beraninya main keroyokan hehehe). Energinya beda jika dikerjakan bersama-sama. Saya pun tidak suka jika terlalu dominan dalam satu grup.

Manggung pertama saya saat itu adalah memainkan tarian tradisional Sulawesi Selatan, tari Ganrangbulo namanya. Itu adalah pentas saat kakak-kakak di TPA (Taman Pendidikan Al-Qur'an) tengah wisuda. Persiapannya sebulan sebelum acara. 

Manggung pertama saat itu sangat berkesan. Sebelum acara dimulai itu saya gemetaran, nerveous, takut, dan malu. Maklum saat itu masih bocil SD dan ini adalah hal pertama bagi saya. Untungnya penampilan saat itu rame-rame. Ada sepuluh anak dalam satu formasi. Dengan penuh semangat kami pun menari di depan penonton yang didonminasi oleh orang tua santri, termasuk orang tua kami yang sedang pentas.

Awalnya memang kami gugup tapi selalu disuntikkan semangat oleh kakak pembina dan benar saat pentas semangat kami luar biasa unuk memberikan pertunjukan yang keren. Semua penonton pun bersorak, tak sedikit yang tertawa melihat aksi kami karena memang anggota kami bocah yang lucu-lucunya saat itu.

Penampilan kami pun selesai. Apresiasi pun datang dari teman-teman dan juga oleh kakak pembina. Bahkan orang tua pun saat itu tidak menyangka kalau ternyata selama ini latihan untuk penampilan di acara wisuda. 

Sejak saat itu beberapa acara wisuda selanjutnya, pentas tari kembali dimainkan. Beberapa dari anggota kami juga merangkap untuk jadi talent lainnya seperti tilawah, mc dan pentas parodi. Sungguh pengalaman yang luar biasa.

Tari Ganrang Bulo
(image: seringjalan.com)

#30dwc
#30dwcjilid34
#30dwcday8
Continue reading Manggung

Tuesday, December 28, 2021

Kamu kan Anak IT ?

"Kamu kan anak IT ?"

Sebagai orang yang bergelut di bidang IT sejak SMK, sering sekali mendengarkan kata-kata itu. Waktu SMK sebutannya bukan anak IT, tapi jurusan komputer. Jadi semua yang permasalahan dan problematika yang terjadi pada sebuah komputer pasti ditanyakan kepada kami anak-anak jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ)

"Kamu kan jurusan komputer, bisa tolong benerin komputer saya nggak ? Lemot banget soalnya"
"Kamu bisa ngilangin virus kan ? Sepertinya laptop saya kena virus" dan lain sebagainya. 
Padahal jurusan komputer bukan cuman TKJ, ada juga jurusan RPL (Rekayasa Perangkat Lunak). 

Setelah tamat SMK, saya kembali melanjutkan studi mengambil jurusan komputer yaitu Pendidikan Teknik Informatika Komputer dan sepertinya label anak IT sudah sangat melekat di teman-teman. Bahkan dengan teman-teman baru di kampus juga, karena pada saat perkenalan saya mengatakan lulusan SMK TKJ.

Pembelajaran IT di kampus sangat luas, semua bidang dipelajari. Mulai dari pemrograman, bahasa ini bahasa itu, algoritma, jaringan komputer, masih banyak lagi. Kebetulan karena saya dari SMK suka dengan jaringan komputer jadi saya paling senang dengan mata kuliah tersebut dan yang paling membuat saya mati kutu adalah pemrograman alias coding, bikin mumet.

Lulus sebagai anak IT juga tersemat di kalangan teman kerja. Beberapa kali pindah kerja pokoknya saya itu anak IT yang bisa semua tentang komputer, duh ! Mereka pikir anak IT itu dewa kali yah, bisa semua hal tentang komputer.

Hal baru di tempat kerja saya diamanahkan untuk handle media sosial termasuk desain, optimasi, website, ngurus ads, buat desain flyer, spanduk, ambil foto dan gambar, editing dan sebagainya. Sebenarnya ini juga ada disiplin ilmunya. Bukan semerta-merta karena semua hal itu dikerjakan di komputer maka anak IT lah yang paling tepat untuk mengerjakan itu semua. 

Jadi teman-teman, dunia IT itu luas yah. Disiplin ilmunya juga masing-masing. Adapun jika ada orang yang bisa semua pasti itu karena bekal mereka belajar dasarnya dan pasti ada satu bidang yang dia kuasai. Ibarat pemain sepak bola, seorang penyerang jika disuruh jaga gawang pastilah kebobolan. Kalau kebobolan mau bilang "Kan kamu pemain bola ?" ke penyerang tersebut ? hhehe

image : mojok.co
#day7
#pejuang30dwc
#fighter30dwc
#squadLa2ak

Continue reading Kamu kan Anak IT ?

Monday, December 27, 2021

Hampir Tewas

Saat itu masih duduk di bangku SD, mungkin sekitar kelas 5. Teman-teman sekelas apalagi para jagoan-jagoan kelas memang sangat kompak. Setelah pulang sekolah pasti kami sudah mempunyai planning untuk bermain di suatu tempat atau pergi untuk berpetualang.

Rencana telah disusun. Kami memutuskan untuk pergi berpetualang di lokasi yang agak jauh dari rumah kami masing-masing. Titik kumpul berada di rumah salah satu teman yang jaraknya dekat dengan sekolah. Kami janjian sebelum waktu Ashar kita sudah berkumpul. Formasi boncengan sepeda juga sudah dibagi.

Waktunya telah tiba. Sepeda Tiger dengan per ditengah ku kayuh untuk menjemput teman dan menuju ke  titik kumpul. Tiba di sana ternyata semua sudah siap. Sebelum berangkat kita ngemil sedikit sebagai bekal perjalanan ke tujuan.

Lepas ngemil kami pun berangkat. Ada sekitar lima atau enam sepeda dengan dua orang masing-masing sepeda saat itu, lumayan ramai petualangan kali ini. Kami pun sampai di lokasi dengan menempuh waktu sekitar 20 menit dari titik kumpul. 

Lokasinya itu sebuah pintu air yang di belakang pintu air tersebut ada seperti danau kecil untuk bisa mandi dan kita juga bisa memancing. Sepeda kami parkir dan langsung terjun ke danau kecil tersebut. 
Kebanyakan teman memilih untuk mencari ikan di pinggir-pinggir danau dan menyisir danau tersebut. Sisanya mandi-mandi termasuk saya.

Cuaca saat itu mendung dan gerimis hujan.  Ketika mulai agak deras kami pun bergegas untuk pulang. Ketika dalam perjalan pulang melewati pintu air, disitu ada beberapa anak-anak dan orang dewasa mandi. Mereka pun mengajak kami singgah untuk mandi. Saya ingat betul seorang bapak-bapak mengajak kami sambil keramas.

Beberapa teman singgah untuk melihat-lihat ada juga yang masih di atas sepedanya. Saya termasuk yang penasaran dan mau mencoba turun untuk berenang. Satu teman yang lumayan pandai berenang turun duluan dan memeriksa, ternyata airnya dalam tidak disarankan untuk yang tidak bisa berenang seperti saya. Hampir saja saya turun lebih jauh dan tenggelam untung ada peringatan. Saya pun bergeas naik perlahan dan ditarik oleh teman karena medannya seperti perosotan dan agak curam.

Tiba-tiba satu teman turun dan kehilangan kendali. Dia memegang tangan saya untuk bertahan supaya tidak langsung terjun ke jalur pintu air tersebut. Akhirnya pegangan ke teman di atas pun terlepas, kami berdua nyungsep ke dalam. Benar kata teman, jalur pintu air tersebut dalam melebihi tinggi kami yang anak SD ini. Sialnya kami berdua tidak bisa berenang. Joss 

id.lovepic.com



Terdengar suara minta tolong dari teman-teman yang lain karena melihat kami sudah tenggelam. Mungkin sekitar 20 detik dalam air, saya melihat ada celana hijau di depan mata. Ternyata ada remaja setempat turun untuk menyelamatkan kami berdua karena teman-teman yang lain takut turun karena kedalamannya lumayan.

Syukur Alhamdulillah kami berdua pun berhasil digotong naik ke atas. Padahal saat tenggelam saya sudah mengira saya akan mati tenggelam, nafas saya sudah tidak karuan dan kaki sudah keram. Sungguh pengalaman yang sangat berharga buat saya saat itu. Akibat kejadian tenggelam itu, sampai sekarang saya pun belum pandai berenang. Mungkin karena trauma yah ? hhee

#day6
#30dwcjilid34
#fightermenulis
Continue reading Hampir Tewas

Sunday, December 26, 2021

Interisti dari jersey pertama

Inter Milan. Sebuah klub sepak bola yang berada di kota Milan Italia. Seragam utama tim ini kombinasi biru hitam. Kalau dalam bahasa Italianya Nerazzuri sama dengan nama julukannya. Selain itu Inter Milan juga memiliki julukan il Biscone yang artinya si ular besar dan La Beneamata (yang tersayang).

Sejak kecil saya suka sepak bola, baik itu memainkannya atau menonton pertandingan. Zaman kecil dulu yang paling banyak diputar di televisi atau yang paling banyak diperbincangkan orang-orang itu adalah Serie A, liga sepak bola level tertinggi di Italia. 

Rata-rata baju bola-baju bola yang beredar di zaman itu juga adalah dari klub-klub Italia sebut saja Francesco Totti & Batistuta (AS Roma), Del Piero dan Trezeguet (Juventus), Shevchenko (AC Milan), Ronaldo dan Vieri (Inter Milan), Nakata (Parma) dan lain sebagainya.

Saat itu kelas 3 SD kalau tidak salah, saya ingin sekali memiliki sepasang baju bola untuk dipakai bermain. Saya pun minta untuk dibelikan sepasang baju bola ke Ibu. Waktu itu Ibu mau mengabulkan permintaan baju bola itu dengan syarat harus dapat ranking satu di kelas dan Alhamdulillah saat itu saya pun dapat memenuhi syarat tersebut.

Akhirnya saya dan Ibu pun ke pasar untuk mencari sepasang baju bola. Saya belum tahu mau beli baju bola klub mana waktu itu. Saya hanya mau baju bola yang keren dan yang pasti berwarna biru kebetulan saya suka sekali dengan warna biru. Pilihan pun jatuh ke baju warna biru hitam dengan nomor punggung 32 bernama Vieri, ternyata itu baju bola klub Inter Milan.

Christian Vieri, Inter Milan

Memiliki sebuah baju bola pertama itu ternyata membuat saya semakin cinta dengan olahraga sepak bola sampai bercita-cita ingin menjadi pemain sepak bola. Sejak saat itu pula setiap dapat ranking 1 lagi, pasti Ibu belikan baju bola jadi saya punya beberapa setelan baju bola dari beberapa klub dan negara.

Dari beberapa baju bola yang saya punya ternyata baju yang paling pertama yang paling berkesan. Ya, baju Inter Milan dengan nomor punggung 32nya. Sejak saat itu saya juga langsung menjadi fans dari Inter Milan. Pokoknya kalau Inter sudah main di tv pasti saya tidak lewatkan untuk menonton. Begitupun berita hasil pertandingan baik itu yang ditayangkan atau sekedar informasi berjalan di bawah layar kaca. Sampai sekarang, saya pun tetap menjadi  fans setia dari Inter Milan.

Apakah ini yang dinamakan cinta pertama ? hhhaa
Apakah ada teman-teman juga merasakan proses yang sama menjadi fans klub sepak bola ?

Continue reading Interisti dari jersey pertama

Friday, December 24, 2021

Semuaaaa.... !!!

Mau cerita sedikit kejadian luar biasa bikin ngakak sampai terekam jelas di memori. Kejadiannya saat masih duduk di bangku SMA. Saat itu tengah libur semester ganjil. Biasanya kalau libur itu suka nginap di rumah teman. Nah kebetulan temanku satu ini  memang paling sering ngajak nginap di rumahnya kalau waktu libur sekolah kebetulan kami teman SMP namun saat SMA berbeda sekolah tapi selalu sama-sama.

Hari itu hari Jum'at, cahaya matahari sudah menembus jendela dan gorden warna biru muda Lazio di kamarnya. Ternyata sudah hampir pukul setengah sebelas pagi kami masih tidur, karena lepas shalat subuh tadi lanjut tidurnya. Saya pun bergegas ke toilet untuk cuci-cuci dan buang air dan kembali ke kamar untuk membangunkan teman.

Sisa-sisa cemilan dan makanan malam tadi dijadikan santapan sarapan pagi yang sudah menjelang siang. Kami pun bergantian untuk mandi persiapan shalat Jum'at. Waktu menunjukkan pukul 11.45, suara pelantang masjid dari segala penjuru pun sudah berkumandang.

Jarak dari rumah ke masjid agak lumayan jauh kalau ditempuh dengan jalan kaki, jadi kam memutuskan untuk naik motor supaya tidak telat menyimak khutbah Jum'at. Karena sudah berwudhu kami pun langsung mengambil shaf agak di tengah-tengah karena di shaf depan sudah agak penuh.

Jum'atan pun berjalan seperti biasa, setelah dua kali khutbah dilanjutkan dengan shalat berjama'ah. Takbir rakaat pertama pun dilakukan. "Allahu Akbar". Sebelum shalat, banyak suara anak-anak yang ribut di barisan belakang sampai di luar masjid dan terus begitu sampai rakaat pertama.

Ada suara anak yang khas sekali saat itu berbicara, pokoknya suaranya itu mendominasi dari teman-temannya padahal jama'ah lagi hening-heningnya mendengar lantunan bacaan Imam. Kejadian tak terduga pun muncul sebelum Imam mengakhiri surah Al-Fatihah. Pada akhir ayat terakhir bacaan, si bocah yang tadi paling vokal tiba-tiba berteriak "semuaaaaaaaaa.... !!"

Otomatis dong semua jema'ah berteriak "Aaaaamiiiiinn". Saat itu konstrasi pecah, auto tidak khusu' shalat. Sepanjang rakaat pertama saya menahan tawa sampir memencet hidung. Belum lagi teman di samping juga menahan tawa, saya tidak tahu bagaimana dengan jama'ah yang lain saat itu apakah juga menahan tawa atau memang sudah biasa. Duh betul-betul bocah itu. 

Untungnya saat rakaat kedua bocah itu sudah tidak melakukannya kembali. Tapi dalam pikiranku, teriakan "semuaaa"nya itu sudah melekat dan saya pun memprediksi dia akan melakukannya lagi di rakaat kedua. 

Selepas shalat jama'ah di shaf belakang heboh dan mencari anak itu. Ternyata dia sudah pulang duluan dan sepertinya dia tidak ikut shalat, cuman mau iseng aja di masjid.

Sampai sekarang kalau saya ceritakan ke teman-teman baru semuanya tertawa ngakak dan tidak menyangka kok bisa yah itu bocah melakakuan teriakan ala konser di masjid. 

Hahahaha, ada-ada saja.


image : tribunlampung.co.id


Continue reading Semuaaaa.... !!!

Thursday, December 23, 2021

Celoteh Si Google Assistant

Hari itu suasana lumayan terik. Menuju pukul sepuluh ruangan kerja mulai terasa agak panas, maklum karena ruangan kerjanya agak luas dan hanya memakai satu Air Conditioner 1 pk dan sepertinya sudah lama belum dicuci kembali makanya suhunya tidak terlalu dingin.

Seperti hari-hari sebelumnya saya dan tiga orang teman kerja lainnya tengah sibuk mengerjakan jodesk masing-masing. Segelas kopi susu hangat dan makanan ringan menemani deadline-deadline yang bertaburan di lembar kerja Microsoft Excel.

Tiba-tiba notifikasi WhatsApp grup berdering, menandakan ada sesuatu yang dikirim di grup tersebut. Saya membukanya melalui web browser karena WhatsAppnya telah sinkron di laptop. Ternyata ada pesan untuk meeting tim siang nanti dengan manager setelah makan siang. Salah satu teman langsung merespon "Duh, sepertinya bakal ada evaluasi pekanan nih bro bro".

 Kami pun langsung bergegas menyiapkan segala sesuatu yang kemungkinan besar akan naik pada pembahasan rapat nanti. Dokumen, hasil pencapaian selama satu pekan dan lainnya dikemas dan dipelajari sebelum rapat.

Istirahat dan makan siang pun usai, artinya sebentar lagi rapat akan dimulai. Lima belas menit kemudian terlihat mobil hitam glossy telah tiba, pak manager pun langsung bergegas masuk keruangan dimana kami semua sudah menunggu. Tanpa banyak basa-basi rapat pun dimulai.

Suasana rapat kali ini sepertinya agak serius. Pak manager saat itu sangat detail dengan hasil capaian tim kami satu pekan ini. Semua item ditanyakan dan sepertinya beliau agak kurang puas dengan hasil capaian tim kami.

Saat bercerita, ternyata pak manager juga kesal dengan seseorang yang dia telah berikan amanah tapi ternyata orang tersebut lalai dalam tugasnya. Sampai pada satu momen ketika beliau marah dan bicara dengan nada agak tinggi "Saya tuh kayak pengen marah-marah aja hari ini !" tiba-tiba handphone saya berbunyi dengan nada notifikasi Google Assistant

 "Tiditt" langsung berlanjut suara khas google mengatakan "Sabar, sabar jangan marah-marah" denga volume yang lumayan besar, duh.

Sontak saya sebagai yang punya handphone kaget dan langsung menekan tombol power. Sepertinya beberapa peserta rapat juga mendengar celoteh si google assistant tadi. Dalam hati saya berkata semoga pak manager tidak dengar yang tadi. 

Setelah rapat pak manager telah meninggalkan ruangan saya langsung mengkonformasi kepada teman-teman yang lain dan benar saja mereka semua mendengar si google assistant tadi dan berusaha menahan tawa saat kejadian itu. Sungguh kejadian yang luar biasa

Esok hari saat pak manager kembali berkunjung ke ruangan kami dan ngobrol santai kami pun menceritakan kejadian kemarin dan syukurnya ternyata pak manager tidak mendengar celoteh si google assistant kemarin.

 "Emang iya HP mu ngomong kayak gitu kemarin waktu saya marah-marah ?"
 "Untung aja saya tidak dengar jelas, bisa jadi kalau saya dengar saya langsung tidak jadi marah, hhha " 

Sejak saat itu saya langsung menonaktifkan fitur Google Assistant di HP saya, takut kebablasan lagi. Hahaha

image : seluler.id


Continue reading Celoteh Si Google Assistant

Reuni, Sebuah Terapi Healing

Satu pekan terakhir ini banyak bertemu dengan teman-teman lama. Pertemuannya begitu spesial karena memang sudah lama tidak bertemu, hanya menyapa melaui medial sosial dan aplikasi messaging di telepon seluler.

Saat itu berjumpa kembali dengan kawan seperjuangan saat duduk di bangku kuliah. Setelah masing-masing telah menyelesaikan studi di kampus, hampir semua teman sekelas kembali ke kampung halaman untuk berkarir. Hanya beberapa yang berada di kota yang sama saat kuliah.

Pada kesempatan itu, seorang teman yang masih satu kelas juga di kampus meminta tolong untuk ditemani ke salah satu kabupaten untuk mengurus surat-menyurat di KUA setempat kerana akan segera melangsungkan pernikahan di kabupaten tersebut.

Tanpa pikir panjang karena saat itu saya juga free untuk beberapa hari kedepan langsung saja saya terima dan berangkat hari itu juga. Pada kesempatan itu sebelum ke kota tujuan kami berdua berkunjung ke kota teman sekelas dulu.

Alhamdulillah, masih empat orang teman seperjuangan pun bisa kami temui. Saling menanyakan kabar, kesibukan, dan yang pasti jika sudah bertemu dengan teman yang sudah lama tidak bertemu otomatis membahas tentang masa lalu atau kejadian-kejadian lucu, horor, menegangkan dan lain sebagainya.

Walaupun terkadang banyak pembahasan yang sepertinya sudah diulang-ulang di masa lalu tetap saja seru dan ngakak saat diceritakan kembali. Dan yang terpenting adalah membahas tentang masa depan. Visi dan misi, tujuan dan planning kedepan juga tidak luput dari forum diskusi reuni.


Dari point cerita ini saya menitikberatkan kepada pentingnya kita bersilaturahim kepada saudara kita. Manfaat dari silaturahim itu bisa kembali kepada diri kita sendiri seperti untuk kesehatan mental kita. Bercengkerama, saling menanyakan kabar, bercerita dengan teman-teman kita bisa meningkatkan mood dan menambah imun. Kita seperti menghadirkan kebahagiaan tersendiri dan membangun perasaan positif untuk kesehatan mental kita.

Jadi, kepada teman-teman tetaplah menjaga silaturahim dengan orang-orang terdekat kita :)


Day 2
30DWCJilid34

Continue reading Reuni, Sebuah Terapi Healing

Tuesday, December 21, 2021

Menantang Diri Menulis Selama 30 Hari

Blog ini saya buat di tahun 2014, saat itu saya tengah berkutat dengan tugas-tugas akhir di kampus. Mengurus nilai yang belum masuk, mengerjakan tugas-tugas mata kuliah yang saya program ulang dan juga tentu saja penyusunan skripsi.

Saya sangat aktif berselancar di dunia maya. Sebelumnya saya juga pernah membuat beberapa blog akan tetapi nasibnya sama, saya tinggal karena tidak ada bahan untuk ditulis, hehehe. Setelah membuat blog ini harapan saya adalah bisa produktif untuk membuat tulisan-tulisan karena pada saat itu saya mengaggap akifitas di kampus sudah tidak sepadat semester-semester sebelumnya.

Tetapi kenyataannya tidak seperti yang diharapkan. Blog ini hanya bisa saya buatkan satu postingan itupun dalam postingan tersebut hanya ada satu kalimat, parah. Postingan kedua blog ini pun saya buat di tahun berikutnya. Setiap awal tahun saya selalu menuliskan tentang akan berjanji untuk produktif mengisi blog ini. Tapi lagi-lagi sampai akhir tahun ini pun blog ini tak kunjung produktif, duh.

Begitu banyak halangan dan alasan yang saya temui sehingga blog ini tak juga produktif. Padahal sudah banyak workshop-workshop, seminar, webinar kepenulisan yang saya ikuti untuk dapat produktif menulis di blog. Walaupun selama bertahun-tahun blog ini belum produktif menghasilkan tulisan, saya tidak menyerah untuk terus berusaha agar blog ini seuai yang saya harapkan.




Akhirnya di bulan Desember mulai hari ini, saya mengikuti kelas menulis dimana dalam kelas ini para fighter (sebutan untuk para peserta) akan ditantang untuk menulis setiap hari selama 30 hari berturut-turut, wow keren. Semoga dengan ikhtiar ini saya bisa produktif untuk menulis dan akan sering mengisi blog kesayangan ini sehingga tidak berdebu karena kosong.




Day1
#pejuang30wdc


Continue reading Menantang Diri Menulis Selama 30 Hari