Pertemuan Pertama
Pandemi sudah memasuki tahun ke-2. Vaksin digencarkan oleh Pemerintah untuk meredam penyebaran virus. Beberapa instansi dan institusi Pendidikan masih membuat kebijakan Work From Home. Sam, seorang freelancer Graphic Designer di sebuah kota industri dan perdagangan juga masih merasakan pekerjaan dari rumah. Aktivitasnya sehari-hari menyelesaikan pekerjaan proyek-proyek dari para clientnya. Selain sebagai Graphic Designer, Sam juga mengasah kemampuannya di bidang digital marketing. Maklum, semenjak pandemi virus Corona melanda dunia behavior orang-orang lebih banyak menghabiskan waktu di dunia maya. Sam melihat peluang itu dan ingin mempelajarinya lebih dalam
Setiap pagi Sam selalu mengawali paginya dengan
berolahraga kecil di halaman rumahnya. Kadang angkat beban, push up dan pull
up, sesekali jogging keluar bolak-balik di jalanan depan rumahnya. Work From
Home membuatnya lebih produktif karena sejatinya Sam orang yang tidak terlalu suka
dengan keramaian. Sam lebih suka menyendiri dengan melakukan banyak kegiatan di
depan laptopnya.
Pukul delapan pagi Sam sudah stand by di depan
laptop. Sebelah kanan laptopnya sudah disiapkan secangkir kopi hitam dengan sebotol
air putih kira-kira 600 ml. Biasanya Sam mengawali paginya dengan memutar
lagu-lagu ngebeat yang popular di tahun 2000an untuk membakar semangatnya.
Hari itu cukup terik. Suhu di kamar Sam agak
sedikit panas. Kipas angin yang biasanya disetel di angka 2 harus dinaikkan ke
3 supaya lebih adem. Tiga proyek dari klien sudah dikerjakan oleh Sam, masih
ada satu lagi. Sam memilih jeda sejenak untuk sekedar mencari hiburan di
platform-platform media online. Sam biasanya suka membuka twitter, membaca thread-thread
yang orang lain repost di timeline.
Setengah jam berlalu, Sam keasyikan dengan dunia twitternya. Saat ingin
beranjak tiba-tiba di scrollan terakhirnya melihat sebuah thread yang ramai
diperbincangkan. Thread itu mengenai sebuah aplikasi chatting random. Melihat
reply-reply orang, akhirnya Sam tertarik untuk mendownload dan mencoba aplikasi
tersebut.
Sam pun mengunduh dan menginstall aplikasi
tersebut. Dia seperti nostalgia ke jama SMPnya dulu. Saat itu dia sering ke warnet
untuk memainkan sebuah aplikasi chatting random untuk sekedar bertegur sapa
atau ngobrol dengan orang lain yang terhubung dengan internet. Sam pun sangat
antusias dengan mainan barunya. Setiap orang yang ditemukan dia sapa.
Menanyakan umur dan kota asal. Seringkali dia bertemu dengan anak-anak SMP dan SMA.
Tapi Sam tetap saja mengajak ngobrol mereka.
Sampai pada satu momen dimana dia bertemu
dengan seseorang.
“Hai..” Sapa Sam duluan.
“Hai juga…” balas orang tersebut.
“Kamu cowok atau cewek ?”
“Aku perempuan.. Kalau kamu ?
“Aku cowok, salam kenal” tutur Sam
Mereka pun mengobrol, saling bercanda. Obrolan
mereka nyambung satu sama lain, sampai Sam meminta kontak perempuan tersebut
berharap komunikasinya tetap terjalin di hari-hari berikutnya. Perempuan itu
pun dengan senang hati memberikan kontaknya. Sam sangat senang. Punya teman
baru seorang perempuan yang bisa diajak ngobrol apa saja.
Setelah memberikan kontaknya, perempuan itu pun
pamit karena ada kerjaan lain. Sam menanyakan apa nanti malam bisa ngobrol lagi
? Perempuan itu pun memberi sinyal positif yang berarti ya. Obrolan pun
berakhir, perempuan itu meninggalkan obrolan di aplikasi. Sam pun berencana
menghubungi perempuan itu lepas makan malam.

0 komentar:
Post a Comment