Wednesday, September 14, 2022

Gadis Virtual (1)

Pertemuan Pertama



Pandemi sudah memasuki tahun ke-2. Vaksin digencarkan oleh Pemerintah untuk meredam penyebaran virus. Beberapa instansi dan institusi Pendidikan masih membuat kebijakan Work From Home. Sam, seorang freelancer Graphic Designer di sebuah kota industri dan perdagangan juga masih merasakan pekerjaan dari rumah. Aktivitasnya sehari-hari menyelesaikan pekerjaan proyek-proyek dari para clientnya.  Selain sebagai Graphic Designer, Sam juga mengasah kemampuannya di bidang digital marketing. Maklum, semenjak pandemi virus Corona melanda dunia behavior orang-orang lebih banyak menghabiskan waktu di dunia maya. Sam melihat peluang itu dan ingin mempelajarinya lebih dalam

 

Setiap pagi Sam selalu mengawali paginya dengan berolahraga kecil di halaman rumahnya. Kadang angkat beban, push up dan pull up, sesekali jogging keluar bolak-balik di jalanan depan rumahnya. Work From Home membuatnya lebih produktif karena sejatinya Sam orang yang tidak terlalu suka dengan keramaian. Sam lebih suka menyendiri dengan melakukan banyak kegiatan di depan laptopnya.

 

Pukul delapan pagi Sam sudah stand by di depan laptop. Sebelah kanan laptopnya sudah disiapkan secangkir kopi hitam dengan sebotol air putih kira-kira 600 ml. Biasanya Sam mengawali paginya dengan memutar lagu-lagu ngebeat yang popular di tahun 2000an untuk membakar semangatnya.

 

Hari itu cukup terik. Suhu di kamar Sam agak sedikit panas. Kipas angin yang biasanya disetel di angka 2 harus dinaikkan ke 3 supaya lebih adem. Tiga proyek dari klien sudah dikerjakan oleh Sam, masih ada satu lagi. Sam memilih jeda sejenak untuk sekedar mencari hiburan di platform-platform media online. Sam biasanya suka membuka twitter, membaca thread-thread yang orang lain repost di timeline.

Setengah jam berlalu, Sam keasyikan dengan dunia twitternya. Saat ingin beranjak tiba-tiba di scrollan terakhirnya melihat sebuah thread yang ramai diperbincangkan. Thread itu mengenai sebuah aplikasi chatting random. Melihat reply-reply orang, akhirnya Sam tertarik untuk mendownload dan mencoba aplikasi tersebut.

 

Sam pun mengunduh dan menginstall aplikasi tersebut. Dia seperti nostalgia ke jama SMPnya dulu. Saat itu dia sering ke warnet untuk memainkan sebuah aplikasi chatting random untuk sekedar bertegur sapa atau ngobrol dengan orang lain yang terhubung dengan internet. Sam pun sangat antusias dengan mainan barunya. Setiap orang yang ditemukan dia sapa. Menanyakan umur dan kota asal. Seringkali dia bertemu dengan anak-anak SMP dan SMA. Tapi Sam tetap saja mengajak ngobrol mereka.

 

Sampai pada satu momen dimana dia bertemu dengan seseorang.

“Hai..” Sapa Sam duluan.

“Hai juga…” balas orang tersebut.

“Kamu cowok atau cewek ?”

“Aku perempuan.. Kalau kamu ?

“Aku cowok, salam kenal” tutur Sam

 

Mereka pun mengobrol, saling bercanda. Obrolan mereka nyambung satu sama lain, sampai Sam meminta kontak perempuan tersebut berharap komunikasinya tetap terjalin di hari-hari berikutnya. Perempuan itu pun dengan senang hati memberikan kontaknya. Sam sangat senang. Punya teman baru seorang perempuan yang bisa diajak ngobrol apa saja.

 

Setelah memberikan kontaknya, perempuan itu pun pamit karena ada kerjaan lain. Sam menanyakan apa nanti malam bisa ngobrol lagi ? Perempuan itu pun memberi sinyal positif yang berarti ya. Obrolan pun berakhir, perempuan itu meninggalkan obrolan di aplikasi. Sam pun berencana menghubungi perempuan itu lepas makan malam.

0 komentar:

Post a Comment