Tuesday, July 11, 2023

Kabar yang Tak dirindukan (1)

Senin, 13 Maret 2023. Waktu jam istirahat di sekolah. Saya duduk di bangku bangku panjang yang ada di hall. Bersantai sejenak Sambil scrolling media sosial untuk melepas penat. Siswa lalu lalang lewat sambil membawa beragam makanan dan minuman yang akan disantap siang. Saya pun berbincang dengan salah satu siswa yang sedang duduk di bangku panjang. 

Kemudian bell pun berbunyi, pertanda jam istirahat telah usai. Para siswa pun bergegas untuk masuk ke kelas masing, saya masih belum beranjak dari tempat duduk karena masih asyik dengan scrolling media sosial. Hari itu memang agak sepi, beberapa teman guru keluar untuk membeli bahan-bahan praktek persiapan ujian dan yang lain tengah sibuk di ruangan masing-masing.

Sedang asyik menonton video tiba tiba handphone berdering, panggilan dari orang rumah, tidak biasanya. Sebenarnya saya sangat takut untuk menerima pesan ataupun telepon langsung dari rumah saat itu karena nenek di rumah sedang terbaring sakit tak berdaya. Selama kurang lebih 2 bulan nenek hanya bisa berbaring ditambah dengan banyaknya luka tekan pada punggung dan sekitaran bokongnya.

Selama dua bulan itu pun saya bersama saudara di rumah intens merawat nenek. Mengganti popok, merawat luka, memberi makan dan memberikan obat. Beruntung saya bekerja di sekolah kesehatan, jadi bisa konsultasi merawat luka yang dialami nenek.

Sebelumnya pernah menerima telepon dari rumah, biasanya adik menyuruh untuk membeli obat atau perlengkapan perawatan luka untuk nenek. Tapi kembali lagi, ketika posisi sedang tidak di rumah dan ada telepon masuk, pasti perasaan panik mengawali percakapan telepon.

Hari itu, kembali hanphone bergetar dan panggiln orang dari rumah terlihat di layar. Saat itu deringnya kubiarkan agak lama, entah kenapa perasaan tidak enak muncul. Perasaan tidak enak ini berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Akhirnya kuberanikan diri untuk menjawab, terdengar suara dari adik ipar, dengan suara agak lirih diapun membuka percakapan

 "Halo, bisa pulang ke rumah sekarang ?"

 "Indo, lagi gawat, seperti tak sadarkan diri" cakapnya

Saya pun hanya menjawab dengan singkat "tunggu, saya pulang sekarang" dilanjutkan menutup telepon. Saya pun duduk termenung, syok mendengar kabar ini. Inilah yang saya takutkan kalau menerima telepon dari rumah.

Saya mencoba untuk menenangkan diri saat merapikan barang-barang di tas, tapi air mata tak bisa kubendung. Sambil berkemas aku menangis lirih membayangkan seperti apa nanti aku saat sampai di rumah. Suasana seperti apa yang akan saya hadapi saat tiba di rumah nanti ? Seperti apa keadaan mama melihat ibunya yang sudah tidak ada ?

Aku pun bergegas tanpa berpamitan dengan siapapun di sekolah karena kebetulan tidak melihat siapapun karena waktu belajar telah mulai dan semua sudah kembali ke aktifitas masing-masing. 


Bersambung...

0 komentar:

Post a Comment