Wednesday, July 12, 2023

Kabar yang Tak dirindukan (2)

Dalam perjalanan menuju ke rumah, pikiranku kosong, hanya terngiang suara telepon yang baru aku dengar. Motor kupacu diantara 50-60 kilometer/jam berharap secepatnya sampai ke rumah. Panas terik seperti tidak terasa lagi saat berkendara waktu itu, padahal cuaca lagi panas-panasnya.

Tiba di rumah, motor kuparkir. Membuka helm perlahan sambil melihat keadaan rumah dari luar. Terdengar suara tangis adik perempuanku yang selama ini menjadi partner menjaga nenek saat sakit. Masuk ke rumah terlihat juga kakak menatapku dengan mata yang merah dan berkata "tidak adami indo"

Aku segera bergegas ke kamar tempat nenek dirawat, Dalam kamar suasana begitu haru. Ada Mama, adik perempuanku dan juga tetangga samping rumah yang berusaha menenangkan Mama. Melihat aku datang Mama juga berkata "Nak, tidak adami Indo'mu".

Tangisku pecah. Hatiku hancur berkeping-keping, Langsung kupeluk jasad nenekku. Aku pun menangis sekencang kencangnya. Jasadnya terus kupeluk, tak mau kulepas. Aku hanya bisa menangis sambil memanggilnya. 

"Indo.... Indo.... Pulangma'... mau kubersihkan lukata" 
"Indo....kenapa tidak tungguka dulu"

Mama menepuk punggungku berusaha menenangkan. "Ikhlas ki nak, ikhlaski, tadi nenekmu pergi dengan tenang sekali. Tidak tersiksa sama sekali waktu pergi. Bagus perginya nenekmu nak"

Aku terus saja menangis, kupandangi wajah nenek semakin tangisku pecah. 
Aku seperti hilang kontrol, sampai kepalaku terasa sakit karena tidak berhenti menangis. Seakan tidak percaya kalau hari itu adalah hari terakhir aku melihat nenek.

Keluarga dan kerabat pun bergantian datang memberikan ucapan belasungkawa. Aku masih belum beranjak dari tempat dudukku, masih belum percaya kalau nenek benar-benar meninggalkan kita.

Lama baru bisa kutenangkan diriku. Setelah tenang, aku pun mengabari beberapa teman dekat, terutama teman-teman yang juga sudah menengal nenek. 

Ketika keluarga dekat sudah berkumpul, dan menelpon ke keluarga yang ada di kampung akhirnya kami sepakat untuk membawa jasad nenek ke kampung untuk dikebumikan. Ambulance akan datang menjemput setelah shalat Magrib dan langsung bertolak ke kampung.

Aku memutuskan untuk tinggal di rumah menjaga Bapak yang juga sedang sakit. Sebenarnya aku juga ingin ikut membawa jasad nenek ke kampung dan mengantarnya ke tempat peristirahatan terakhirnya, Tapi, selain tidak ada yang menjada Bapak di rumah, aku pun tak yakin akan kuat melihat prosesi pemakamannya nanti.

Sampai sekarang, aku pun belum pernah berkunjung ke kampung untuk berziarah ke kubur nenek. Berharap nanti bisa mengunjungi kuburnya.

Nenek, orang yang sangat sabar. Sangat baik ke cucu dan cicitnya. 
Neneklah yang mengajari aku bisa lancar mengaji. Dia bisa khatam 8 sampai 10 kali bacaan Al-Qur'an kalau bulan Ramadhan.
Nenek menjadi teladan kami dalam melaksanakan ibadah-ibadah.
Neneklah yang mengajari kesabaran, kelembutan. Tutur katanya sangan santun, tak pernah membentak.

Sebagai cucunya, aku sangat bersyukur bisa berbakti untuk menemaninya di saat-saat terakhirnya.
Berkesempatan merawatnya saat sakit sampai maut menjemputnya


Selamat Jalan Nenek
Semoga Amal Ibadahmu diterima di sisi Allah
Terima kasih untuk semua yang telah kau berikan
Terima kasih untuk semua pelajaran dan teladan yang kau ajarkan
Maafkan cucumu yang sampai saat ini belum berkunjung ke kuburmu :'(

allahummaghfirlaha warhamha wa'afiha wa'fuanha

0 komentar:

Post a Comment